Followers

Saturday, April 9, 2022

3.1.a.4. Eksplorasi Konsep - Nilai-nilai Kebajikan Universal

 

Tujuan Pembelajaran Khusus: 

  • CGP dapat mengidentifikasi dan memahami prinsip-prinsip etika yang berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati dalam lingkungan pribadi maupun kerjanya.
  • CGP dapat mengaitkan nilai-nilai kebajikan yang disepakati dan diyakini dalam proses pengambilan keputusan dilema etika.
  • CGP bersikap reflektif, kritis, dan terbuka dalam menganalisis nilai-nilai kebajikan yang terkandung dalam sebuah pengambilan keputusan dilema etika.
Pengantar

Sekolah adalah ‘institusi moral’  yang dirancang untuk membentuk karakter para warganya. Seorang pemimpin di sekolah tersebut akan menghadapi situasi di mana mengambil suatu keputusan yang banyak mengandung dilema secara Etika, dan berkonflik antara nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar. Keputusan-keputusan yang diambil di sekolah akan merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh sekolah tersebut, dan akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah.

Dalam pengambilan suatu keputusan, seringkali kita bersinggungan dengan prinsip-prinsip etika. Etika di sini tidak berkaitan dengan preferensi pribadi seseorang, namun merupakan sesuatu yang berlaku secara universal. Seseorang yang memiliki penalaran yang baik, sepantasnya menghargai konsep-konsep dan prinsip-prinsip etika yang pasti.  Prinsip-prinsip etika sendiri berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati dan disetujui bersama, lepas dari latar belakang sosial, bahasa, suku bangsa, maupun agama seseorang. Nilai-nilai kebajikan universal meliputi hal-hal seperti Keadilan, Tanggung Jawab, Kejujuran, Bersyukur, Lurus Hati, Berprinsip, Integritas, Kasih Sayang, Rajin, Komitmen, Percaya Diri, Kesabaran, dan masih banyak lagi.

Anda mengetahui bahwa salah satu rekan guru Anda memberikan les privat kepada beberapa murid pada suatu pelajaran tertentu. Murid-murid yang mengikuti les privat telah mendapatkan soal-soal yang akan dijadikan bahan tes, dan tentunya hasil tes mereka menjadi sangat baik dibandingkan dengan hasil murid-murid yang lain. Apa yang harus Anda lakukan?

Dari kasus diatas saya sebagai sahabat Guru tersebut agar bertanya baik-baik apa tujuan pemberian les privat, bila memnag untuk tujuan mencari penghasilan tambahan, saya akan memberi saran untuk bisa berlaku adil terhadap anak-anak yang tidak les privat, karena memang murid-murid tersebut tidak sanggup untuk membayar les. Menurut saya, pemberian les privat boleh karena memang ada beberapa murid yang membutuhkan, tapi jangan sampai membuat kita untuk membedakan murid, karena semua murid mempunyai hak yang sama di sekolah. Mudah-mudahan dengan perbincangan dari hati ke hati bisa membuat sahabat saya mempunyai sikap yang adil terhadap murid-muridnya, jadi saya tidak perlu melaporkan kepada kepala sekolah tentang hal ini ini. 

Di bawah ini ada beberapa contoh nilai-nilai kebajikan universal yang telah disepakati beberapa institusi:

1. IBO Primary Years Program (PYP)

Sikap Murid:

  • Toleransi
  • Rasa Hormat
  • Integritas
  • Mandiri
  • Menghargai
  • Antusias
  • Empati
  • Keingintahuan
  • Kreativitas
  • Kerja sama
  • Percaya Diri
  • Komitmen

2. Sembilan Pilar Karakter Indonesian Heritage Foundation (IHF):

  • Cinta Tuhan dan segenap ciptaanNYA
  • Kemandirian dan Tanggung jawab
  • Kejujuran (Amanah), Diplomatis
  • Hormat dan Santun
  • Dermawan, Suka Menolong dan Gotong Royong
  • Percaya Diri, Kreatif dan Pekerja Keras
  • Kepemimpinan dan Keadilan
  • Baik dan Rendah Hati
  • Toleransi, Kedamaian dan Kesatuan

3. Petunjuk Seumur Hidup dan Keterampilan Hidup (LIfelong Guidelines and Life Skills)

Keterampilan Hidup

  • Dapat dipercaya
  • Lurus Hati
  • Pendengar yang Aktif
  • Tidak Merendahkan Orang Lain
  • Memberikan yang Terbaik dari Diri

Petunjuk Hidup

  • Peduli
  • Penalaran
  • Bekerja sama
  • Keberanian
  • Keingintahuan
  • Usaha
  • Keluwesan/Fleksibilitas
  • Berorganisasi
  • Kesabaran
  • Keteguhan hati
  • Kehormatan
  • Memiliki Rasa humor
  • Berinisiatif
  • Integritas
  • Pemecahan Masalah
  • Sumber pengetahuan
  • Tanggung jawab
  • Persahabatan

4. The Seven Essential Virtues (dari Building Moral Intelligence, Michele Borba):

  • Empati
  • Suara Hati
  • Kontrol Diri
  • Rasa Hormat
  • Kebaikan
  • Toleransi
  • Keadilan
Setelah Anda membaca nilai-nilai kebajikan dari keempat institusi tadi, sekarang pilihlah salah satu yang menurut Anda paling menarikbandingkan dengan nilai-nilai kebajikan atau prinsip-prinsip yang Anda miliki di sekolah Anda. Adakah suatu perbedaan atau persamaan? Kemudian pikirkan bagaimana nilai-nilai kebajikan yang Anda pilih dapat disampaikan dalam pengajaran atau kira-kira bagaimana program pendalaman terhadap nilai-nilai kebajikan tersebut dapat disampaikan kepada murid-murid di sekolah Anda?

Menurut saya yang paling menarik adalah Petunjuk Seumur Hidup dan Keterampilan Hidup (LIfelong Guidelines and Life Skills) yang terdiri dari ketrampilan hidup dan petunjuk hidup. Bila semua warga sekolah tanpa kecuali melaksanakan pedoman ini, maka akan tercapai sekolah yang maju karena semua akan bahagia berada dan berinteraksi di sekolah, tidak akan ada rasa kecewa, marah, tak di hargai dan potensi semua murid akan tersalurkan dan tereksplorasi dengan sangat baik. Pedoman yang saya pilih ini ada beberapa yang sudah dilaksanakan oleh warga sekolah, walaupun belum semuanya, baik pihak managemen sekolah, Guru, TU dan murid belum seluruhnya melaksanakannya, dan kalaupun melaksanakan hanya beberapa pedoman saja, masih terdapat kekecewaan, kurangnya penghargaan terhadap hasil karya, dari pihak murid pun belum sepenuhnya bisa menghargai proses pembelajaran yang diberikan oleh Guru. Saya akan berusaha untuk melaksanakan semua pedoman yang saya pilih, diawali oleh diri saya sendiri untuk menjadi pribadi yang dapat dipercaya oleh murid tentang kompetensi keilmuan dan cara mengajar saya, kemudian saya juga meluruskan niat untuk mengabdi supaya murid- murid saya mengerti pembelajaran dari saya. Dalam pembelajaran saya akan lebih mendengarkan keinginan murid, dan saya harap muridpun dapat menghargai dan menghormati pembelajaran dari saya, dan saya juga akan selalu memberikan yang terbaik dari saya, dan tentunya saya akan selalu menghargai hasil karya murid-murid saya, semua tugas akan saya beri nilai, dan sesuai, bila memang bagus ya saya kasih nilai maksimal, supaya murid bahagia dan semakin semangat. 

Keputusan apa yang akan Anda ambil dalam situasi-situasi di bawah ini? 

  1. Rayhan adalah seorang murid kelas 12 yang sangat berbakat dalam bidang seni. Dia juga sopan dan baik hati. Dia selalu membuat orang terkesan dengan karya-karya seni yang dibuatnya. Namun dia tidak menyukai pelajaran Matematika. Nilai-nilainya untuk pelajaran Matematika selalu dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Sebelum mengikuti Ujian Akhir SMA dan pengumuman kelulusan SMA, Rayhan sudah diterima di universitas pilihannya di jurusan Seni. Pada hari Ujian Sekolah pelajaran Matematika, Anda adalah guru pengawas ujiannya. Anda memergoki Rayhan menyontek pada saat ujian sekolah Matematika. Setelah ujian selesai, Anda memanggilnya ke ruangan Anda. Rayhan mengaku kalau ia menyontek, tapi ia mohon Anda tidak melaporkannya pada kepala sekolah. Ia melakukannya hanya untuk lulus SMA agar bisa kuliah di universitas impiannya. Apa yang akan Anda lakukan? Apakah Anda akan tetap melaporkan kepada kepala sekolah atau menyimpan rahasia ini rapat-rapat?
  2. Anda adalah bendahara panitia acara Pentas Seni Akhir Tahun di sekolah Anda. Setelah acara selesai, ketua panitia meminta Anda menggunakan dana yang tidak terpakai untuk acara pembubaran panitia dengan mengadakan pesta kecil-kecilan. Ketua panitia meminta Anda sebagai bendahara panitia, untuk membuat kwitansi palsu untuk membiayai acara tersebut karena dana tersebut tidak boleh digunakan untuk kegiatan semacam itu. Apa yang akan Anda lakukan?

Situasi yang manakah yang lebih menantang/sulit bagi Anda untuk mengambil keputusan?  Mengapa?

Menurut saya kasus kedua lebih sulit atau menantang karena saya bingung harus bagaimana, saya mempunyai prinsip kejujuran adalah yang utama, tapi kebiasaan di sekolah harus saya lawan, yang konsekuensinya saya akan dibenci oleh atasan dan rekan Guru yang lain. Saya pernah mengalami, saya memilih sesuai aturan, dan jujur, tapi akibatnya saya justru tidak terpakai lagi di pihak manajerial sekolah. Itu lah konsekuensi atas pilihan yang saya ambil. 

Sekarang Anda diminta untuk membaca kembali kasus di sekolah Anda masing-masing yang telah Anda tulis di akhir pembelajaran Mulai dari Diri, kemudian buatlah analisis apakah itu termasuk dilema etika atau bujukan moral dan sebutkan alasannya.

Kasus saya dimana saya diminta untuk memanipulasi laporan konsumsi, maka itu termasuk bujukan moral, karena saya diminta untuk memilih sikap antara benar atau salah, tetapi menyangkut kepentingan banyak orang dan tentunya kebahagiaan banyak orang, dan menyangkut prinsip hidup yang saya pegang. 

Empat Paradigma Dilema Etika 

Dari pengalaman kita bekerja kita pada institusi pendidikan, kita telah mengetahui bahwa dilema etika adalah hal berat yang harus dihadapi dari waktu ke waktu. Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup. 

Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini: 
1. Individu lawan masyarakat (individual vs community) 
2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy) 
3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) 
4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term) 

Secara lebih rinci, berikut adalah penjelasan dari keempat paradigma tersebut: 

Individu lawan masyarakat (individual vs community) 
Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya. Bisa juga konflik antara kepentingan pribadi melawan kepentingan orang lain, atau kelompok kecil melawan kelompok besar. “Individu” di dalam paradigma ini tidak selalu berarti “satu orang”. Ini juga dapat berarti kelompok kecil dalam hubungannya dengan kelompok yang lebih besar. Seperti juga “kelompok” dalam paradigma ini dapat berarti kelompok yang lebih besar lagi. Itu dapat berarti kelompok masyarakat kota yang sesungguhnya, tapi juga bisa berarti kelompok sekolah, sebuah kelompok keluarga, atau keluarga Anda. Dilema individu melawan masyarakat adalah bagaimana membuat pilihan antara apa yang benar untuk satu orang atau kelompok kecil , dan apa yang benar untuk yang lain, kelompok yang lebih besar. Guru kadang harus membuat pilihan seperti ini di dalam kelas. Bila satu kelompok membutuhkan waktu yang lebih banyak pada sebuah tugas, tapi kelompok yang lain sudah siap untuk ke pelajaran berikutnya, apakah pilihan benar yang harus dibuat? Guru mungkin menghadapi dilema individu lawan kelompok.

Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy) 
Dalam paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain. Kadang memang benar untuk memegang peraturan, tapi terkadang membuat pengecualian juga merupakan tindakan yang benar. Pilihan untuk menuruti peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa hormat terhadap keadilan (atau sama rata). Pilihan untuk membengkokkan peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa kasihan (kebaikan) Misalnya ada peraturan di rumah Anda harus ada di rumah pada saat makan malam. Misalnya suatu hari Anda pulang ke rumah terlambat karena seorang teman membutuhkan bantuan Anda. Ini dapat menunjukkan dilema keadilan lawan rasa kasihan, terhadap orang tua Anda. Apakah ada konsekuensi dari melanggar peraturan tentang pulang ke rumah tepat waktu untuk makan malam, atau haruskah orang tua Anda membuat pengecualian? 

Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) 
Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika. Kadang kita perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain. Apakah kita akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya. Pada jaman perang, tentara yang tertangkap kadang harus memilih antara mengatakan yang sebenarnya kepada pihak musuh atau tetap setia kepada teman tentara yang lain. Hampir dari kita semua pernah mengalami harus memilih antara mengatakan yang sebenarnya atau melindungi teman (saudara) yang dalam masalah. Ini adalah salah satu contoh dari pilihan atas kebenaran melawan kesetiaan. 

Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term) 
Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang. Paradigma ini bisa terjadi di level personal dan permasalahan seharihari, atau pada level yang lebih luas, misalnya pada issue-issue dunia secara global, misalnya lingkungan hidup dll. Orang tua kadang harus membuat pilihan ini. Contohnya: Mereka harus memilih antara seberapa banyak uang untuk digunakan sekarang dan seberapa banyak untuk ditabung nanti. Pernahkah Anda harus memilih antara bersenang-senang atau melatih instrumen musik atau berolahraga? Bila iya, Anda telah membuat pilihan antara jangka pendek melawan jangka panjang. Artikel disarikan dari Buku “How Good People Make Tough Choices: Resolving the Dilemmas of Ethical Living, Rusworth M.Kidder, 1995, USA: HarperCollins Publishers

Video Dilema 1
Yang menghadapi dilema adalah Pak Tono.  Adalah benar jika Pak Tono memilih pergi ke sekolah untuk wawancara kandidat Kepala sekolah, karena ini adalah kesempatan bagus untuk karir pak Tono. Tapi benar juga jika pak Tono memanggil tukang urut untuk Bapaknya, karena sebagai anak harus berbakti kepada orang tua.  Paradigma yang terjadi adalah Dilema etika yaitu Kebenaran lawan kesetiaan. Pada kasus ini, menurut saya tidak ada paradigma dilema etika yang lain.


Yang menghadapi dilema adalah Petugas Perpustakaan bernama Bu Hani. Terdapat dua kebenaran yaitu adalah benar jika Bu Hani menuntut Made untuk mengembalikan buku perpustakaan karena memang itu adalah kewajiban Made dan buku tersebut milik perpustakaan sekolah tapi benar juga jika Bu Hani memberikan pengecualian karena keadaan ekonomi Made yang kurang mampu, dan Made adalah anak yang sangat rajin membaca. Paradigma dilema etika yang terjadi adalah rasa keadilan lawan rasa kasihan. Menurut saya, untuk kasus ini hanya satu dilema etika, tidak ada yang lain. 


Yang menghadapi dilema adalah Pak Budi. Ada dua kebenaran yaitu adalah benar jika Pak Budi jujur kepada kepada ibu Kepala Sekolah, bahwa sahabatnya Pak Bambang mengadakan les privat buat Bagas, tapi benar juga jika Pak Budi tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Ibu Kepala Sekolah, karena kasihan Pak Bambang membutuhkan tambahan uang untuk biaya operasi cesar istrinya. Paradigma dilema etika yang terjadi adalah dilema kebenaran lawan kesetiaan. Menurut saya tidak ada paradigma dile lain pada kasus ini.


Yang mengalami dilema adalah 3 siswa yang lebih memilih main bola daripada mengikuti Bazar. Terdapat 2 kebenaran yaitu adalah benar jika 3 siswa tersebut lebih memilih bermain bola karena itu adalah hobby mereka dan cuaca sedang cerah tapi benar juga jika ketiga siswa tersebut lebih memilih mengikuti bazar karena uang bazar akan digunakan untuk karya wisata satu kekelas ke Bogor. Paradigma dilema etika yang terjadi adalah Kepentingan individu lawa kepentingan masyarakat. Menurut saya tidak ada paradigma dilema etika yang lain. 

2.3 Tiga Prinsip Pengambilan Keputusan

Etika terkait dengan karsa karena manusia memiliki kesadaran moral. Akal dan moral dua dimensi manusia yang saling berkaitan. Etika terkait dengan karsa karena manusia memiliki kesadaran moral.
(Rukiyanti, L. Andriyani, Haryatmoko, Etika Pendidikan, hal. 43). 
  

Dari kutipan di atas kita bisa menarik kesimpulan bahwa karsa merupakan suatu unsur yang tidak terpisahkan dari perilaku manusia.  Karsa ini pun berhubungan dengan nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang dianut oleh seseorang, disadari atau pun tidak. Nilai-nilai atau prinsip-prinsip inilah yang mendasari pemikiran seseorang dalam mengambil suatu keputusan yang mengandung unsur dilema etika. 

Silakan Anda membaca 3 (tiga) pernyataan di bawah ini: 

  1. Melakukan, demi kebaikan orang banyak.
  2. Menjunjung tinggi prinsip-prinsip/nilai-nilai dalam diri Anda.
  3. Melakukan apa yang Anda harapkan orang lain akan lakukan kepada diri Anda. 

Selama ini pada saat mengambil keputusan, landasan pemikiran Anda memiliki kecenderungan pada prinsip nomor 1, 2, atau 3? Silakan tanpa berpikir panjang, Anda langsung menuliskan jawaban Anda di secarik kertas.

Etika tentunya bersifat relatif dan bergantung pada kondisi dan situasi, dan tidak ada aturan baku yang berlaku. Tentunya ada prinsip-prinsip yang lain, namun ketiga prinsip di sini adalah yang paling sering dikenali dan digunakan. Dalam seminar-seminar, ketiga prinsip ini yang seringkali membantu  dalam menghadapi pilihan-pilihan yang penuh tantangan, yang harus dihadapi pada dunia saat ini. (Kidder, 2009, hal 144). Ketiga prinsip tersebut adalah:

  1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
  2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
  3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Perlu diingat bahwa setiap keputusan yang kita ambil akan ada konsekuensi yang mengikutinya, dan oleh sebab itu setiap keputusan perlu berdasarkan pada rasa tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan universal dan berpihak pada murid.

Untuk kasus yang saya tulis pada tugas mulai dari diri, Saya memilih nomor 2 menjunjung tinggi prinsip atau nilai dalam diri saya. Walaupun dengan pemilihan keputusan ini pasti ada dampaknya terhadap pribadi saya, terutama karir saya. Setiap keputusan yang diambil pasti ada konsekuensinya. 
3 Prinsip Dilema Etika

Apa pemahaman Anda dari video prinsip dilema etika di atas,  adakah sesuatu yang tidak terduga, atau adakah pertanyaan lanjutan yang masih ingin Anda pelajari selanjutnya pada sesi pendampingan fasilitator dan mentor?
Dari tayangan video diatas, ada hal yang tak terduga, karena di jelaskan di video bahwa dari ketiga prinsip etika, prinsip berbasis kepedulian merupakan prinsip yang paling baik seperti emas karena ada unsur empati didalamnya, namun ternyata justru dianggap prinsip paling lemah karena bisa jadi kita membolehkan keburukan bukan kebajikan, seperti contoh murid yang saling mencontek. Pertanyaan lanjutan untuk mentor atau fasilitator adalah prinsip mana yang dianggap paling ideal yang harus kita pegang dalam beretika di dlam masyarakat?

Tugas 2.3 (Wawancara)
Temuilah seorang rekan kerja Anda, dan tanyakan apakah rekan Anda tersebut bersedia memberikan pendapat mereka terhadap studi kasus di bawah ini. Anda diharapkan memilih satu kasus dari empat kasus yang disediakan.  Bila bersedia, rekamlah hasil wawancara Anda, bisa dalam bentuk video atau audio.

Ibu Tati adalah guru kelas V yang merupakan rekan kerja Anda, yang mana sama-sama mengajar kelas V yang kelasnya paralel. Ruangan kelas ibu Tati pun persis di sebelah ruangan kelas Anda. Ibu Tati terkenal sangat disiplin dan cenderung ‘galak’. Pada sisi lain, ibu Tati juga pekerja keras dan murid-muridnya pun selalu mendapatkan nilai-nilai yang sangat baik. Sebagian murid-murid sangat takut kepada ibu Tati, dan sebagian lain bisa menyesuaikan diri. Kepala Sekolah Anda dan orang tua murid juga sangat menghargai ibu Tati. Suatu hari, Anda mendengar tangisan seorang murid dan pergi keluar untuk melihat asal suara tangisan tersebut. Anda melihat seorang murid perempuan, kelas V sedang berlutut di atas bebatuan sekolah yang sangat panas hari itu, menghadap di depan pintu kelas ibu Tati.  Anda melihat ibu Tati tampak tidak menghiraukan suara tangisan muridnya dan tetap mengajar seperti biasa, namun Anda bisa melihat bahwa beberapa murid di kelas ibu Tati mencoba untuk mencuri pandangan keluar kelas melihat temannya yang sedang menangis dan berlutut di terik matahari. Apa yang harus Anda lakukan? Apakah guru lain dapat menginterupsi di mana saat itu ada guru lain yang memiliki wewenang atas kelas yang dipimpinnya? Dalam kondisi ini apa yang bisa Anda lakukan? Dapatkah Anda menginterupsi, mengapa, dan bagaimana?

Anda adalah Kepala Sekolah di SMA Tunas Gemilang.  Pak Doddy adalah seorang guru Matematika di sekolah yang Anda pimpin. Ia adalah guru yang kompeten dan memiliki semangat belajar yang tinggi.  Ia menguasai bidang yang diajarkan dan metode mengajarnya juga mudah dimengerti oleh murid-murid, namun ia memiliki beberapa masalah dalam pengendalian emosi dan pengelolaan waktu.  Beberapa kali  Anda mendapat keluhan baik dari murid-murid maupun orang tua murid bahwa Pak Doddy kerap marah-marah pada murid-muridnya ketika ia kecewa pada sikap atau kinerja mereka.  Anda telah menyampaikan keluhan-keluhan tersebut pada Pak Doddy dan membimbingnya untuk memperbaikinya. Pak Doddy juga kerap kali terlambat dalam menyelesaikan tanggung jawabnya, seperti membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, membuat soal ujian, dan juga mengisi nilai raport siswa. Kejadian terakhir, Pak Doddy terbukti memanipulasi laporan keuangan kepanitiaan kegiatan study tour ke Yogya, dimana ia menjadi bendaharanya. Akhirnya di akhir tahun ajaran, Anda memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak kerja Pak Doddy. 

Pak Doddy dapat menerima keputusan sekolah. Ia segera mencari pekerjaan baru dengan melamar ke beberapa sekolah. Pak Doddy juga secara personal meminta Anda untuk memberikan rekomendasi bila ada sekolah yang memintanya. Anda pun mengiyakannya. Pada suatu hari, Anda mendapat email dari bagian Sumber Daya Manusia/SDM, SMA Cahaya Hati yang meminta Anda mengisi lembar rekomendasi mengenai kinerja Pak Doddy sehubungan dengan lamaran Pak Doddy ke sekolah tersebut sebagai Koordinator Guru Matematika. Di formulir itu ada beberapa pertanyaan tentang pengendalian emosi, pengelolaan waktu, juga tentang integritas. 

Anda paham betul bahwa kalau Anda mengisi dengan sebenar-benarnya, Pak Doddy tidak akan mendapatkan pekerjaan tersebut. Padahal sekolah tersebut adalah sekolah yang baik dan posisi yang dituju adalah posisi yang baik. Anda juga tahu, sebagai kepala keluarga dengan istri yang tidak bekerja dan 3 anak yang masih kecil-kecil, Pak Doddy sangat membutuhkan pekerjaan ini. Apa yang akan  Anda lakukan? Apakah Anda akan mengisi form tersebut dengan apa-adanya, atau akan anda buat sedikit lebih baik dari fakta yang terjadi? Apa yang akan menjadi pertimbangan ketika Anda melakukan itu?

Anda adalah guru pelajaran Bahasa Indonesia di SMA Karakter Mulia. 4 hari lagi  adalah hari pembagian raport Semester 1. Sebelumnya, semua guru telah menyerahkan daftar nilai murid-murid pada pelajaran yang diampunya pada kepala sekolah, Ibu Rosdiana. Ibu Rosdiana adalah Kepala Sekolah yang baru bertugas di SMA Karakter Mulia di tahun ajaran ini.  

Hari ini Ibu Rosdiana mengadakan rapat guru.  Ia membuka pertemuan dengan berterima kasih atas kerja keras para guru dalam mengajar murid-murid selama ini dan juga telah mengumpulkan nilai rapor dengan tepat waktu. Kemudian ia menyampaikan bahwa secara umum, nilai raport yang diberikan oleh guru-guru terlalu rendah dan tidak mencukupi untuk mendukung murid-murid masuk perguruan tinggi negeri (PTN) melalui jalur nilai raport atau jalur tanpa tes. Ia dengan tegas menyatakan, kalau nilai rapor tetap seperti itu, maka murid-murid sekolah kita sampai kapan pun tidak pernah bisa diterima di PTN dengan jalur nilai raport. Ia juga menyatakan bahwa salah satu target kerjanya di SMA karakter Mulia  adalah membuat 25% murid diterima di PTN dengan jalur raport. Oleh karena itu, sejak murid-murid di kelas 10, nilai raport mereka harus dibuat bagus dan menunjukkan grafik peningkatan. 

Ibu Rosdiana akhirnya meminta guru-guru untuk menaikkan nilai murid-murid 10 poin, maka bila nilai murid 70 maka akan menjadi 80, dan seterusnya, demi membantu masa depan mereka, dan juga demi nama baik sekolah agar kepercayaan masyarakat meningkat bila banyak murid-murid sekolah ini yang diterima di PTN dengan jalur nilai rapor.  Anda telah mengajar di sekolah ini selama lebih dari 5 tahun, dan selama ini Anda merasa diberi otoritas dan kepercayaan penuh dalam memberikan penilaian pada murid-murid Anda, selama ada bukti-bukti penilaian yang lengkap, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan. Anda merasa kredibilitas Anda diragukan dan integritas anda dipertanyakan.  Bila Anda meningkatkan  Apa yang akan anda lakukan dan atas dasar apa Anda melakukan itu?

  1. Tanyakan kira-kira rekan Anda di sekolah keputusan seperti apa yang akan diambil untuk menangani kasus seperti di atas? 
  2. Berikan tanggapan/pendapat Anda atas keputusan yang dibuat rekan kerja Anda. 
  3. Kira-kira prinsip mana yang menjadi landasan berpikir rekan kerja Anda, dalam mengambil keputusan. 
  4. Berbedakah pengambilan keputusan rekan Anda dengan Anda sendiri? 
  5. Tulis dan jelaskan pandangan-pandangan Anda bilamana pendapat Anda dan rekan kerja Anda berbeda, apakah Anda berbeda prinsip dalam pengambilan keputusan? 
  6. Mengapa Anda berpendapat seperti itu, faktor-faktor apa yang menentukan pendapat Anda?
Setelah melakukan wawancara, silakan unggah hasil rekaman video/audio wawancara tadi ke Google Drive, kemudian masukan link file video/audio tadi dan jawablah pertanyaan-pertanyaan terkait hasil wawancara yang Anda lakukan di kegiatan 3.1.a.4.1. Eksplorasi Konsep - Prinsip Pengambilan Keputusan

Demikian tadi tugas Eksploarasi konsep pada Modul 3.1 nilai- nilai kebajikan universal.
Mudah-mudahan bermanfaat... Salam Guru Penggerak....😍😍😍😍

3.1.a.3. Mulai dari Diri (Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran)

 Tujuan Pembelajaran Khusus: Mengaktifkan pengetahuan awal (prior knowledge) tentang proses pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yang berada di antara berbagai pemangku kepentingan, di antaranya murid, orang tua murid, guru, yayasan dan pihak komunitas sekolah.

Beban dan amanah kepemimpinan adalah mengimbangi semua prioritas yang terpenting. Tugas saya dalam pendidikan adalah melakukan yang terbaik.  Apa yang diinginkan kadang-kadang belum tentu  itu yang terbaik. Dan untuk membuat perubahan, apalagi perubahan yang transformational, pasti ada kritik.  Sebelum mengambil keputusan, tanyakan, apakah yang kita lakukan berdampak pada peningkatan pembelajaran murid? (Nadiem Makarim, 2020)

Menurut Bapak dan Ibu, apa pesan dari kutipan tersebut di atas?
Menurut pendapat saya, bahwa untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, pasti harus kuat mental karena pasti banyak kritik, dan kritik pedas adalah hal untuk semakin memicu semangat kita untuk melakukan perubaha, selalu refleksi setelah kita melakukan atau mengambil keputusan agar kita bisa selalu instropeksi diri, evaluasi dan memperbaiki yang sudah kita lakukan... lakukan terus, tujuan kita supaya bermanfaat bagi banyak orang bukan untuk menjadi yang terbaik atau sukses semata...

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran yang berpihak pada murid, Anda pasti sering dihadapkan dalam situasi di mana Anda diharuskan mengambil suatu keputusan. Namun, seberapa sering keputusan tersebut melibatkan kepentingan dari masing-masing pihak yang sama-sama benar, tapi saling bertentangan satu dengan yang lain?
Bagaimana pengalaman Anda dalam menghadapi situasi seperti ini? Pemikiran-pemikiran seperti apa yang melandasi pengambilan keputusan Anda? Kemudian, setelah mengambil keputusan tersebut, pernahkah Anda menjadi ragu-ragu dan menanyakan diri Anda sendiri apakah keputusan yang diambil telah tepat, ada perasaan tidak nyaman dalam diri Anda, atau timbul pemikiran mengganjal dalam diri Anda seperti, ‘Apakah ini sesuai peraturan?’ atau ‘Bagaimana panutan saya akan berlaku dalam hal seperti ini?’
Pembelajaran yang berpihak pada murid saya lakukan supaya murid bahagia, sebelum saya merancang tugas atau pembelajaran untuk murid saya, saya selalu berpikir... kalau misal saya jadi murid, bahagia ga ya dikasih tugas seperti ini? berat apa ga ya? dan sering sebelum pembelajaran saya tanyakan dulu bagaimana perasaan mereka? kemudian pembelajaran seperti apa yang mereka inginkan? waktu pengerjaan? walaupun tidak semua saya serahkan kepada murid, tapi untuk menentukan aturan di kelas, cara belajar, presentasi, biasanya saya buat kesepakatan kelas karena kebetulan saya mengajar anak SMA yang tentunya sudah lebih dewasa dari pada tingkat dibawahnya...

Studi Kasus: Anda adalah Kepala Sekolah yang baru diangkat di SMP X. Wakil Kepala Sekolah Kurikulum mengatakan bahwa sekolah memerlukan buku-buku pelajaran baru yang perlu didistribusikan dengan segera kepada murid-murid. Hari itu, Anda diberitahu bahwa penerbit Y akan hadir untuk presentasi buku-buku pelajaran untuk tahun ajaran baru. Wakasek Kurikulum Anda mengatakan bahwa ini adalah kegiatan rutin sekolah untuk menyeleksi buku-buku pelajaran murid kelas 1-6 menjelang tahun ajaran baru dimulai, dan para orang tua pun sudah menunggu daftar buku-buku yang harus dibeli. Anda pun bertemu dengan penerbit Y. Di akhir rapat, penerbit Y memberitahu Anda bahwa jika Anda memutuskan memesan dari penerbitan mereka, maka seperti kepala sekolah sebelumnya, Anda akan mendapatkan 'komisi'. Penerbit memberitahu Anda bahwa kegiatan seperti ini sudah dilakukan setiap tahun oleh pimpinan sekolah Anda terdahulu. Penerbit Y juga mengatakan bahwa kerja sama ini sudah lama terbina, dan mereka senantiasa tepat waktu memberikan buku-buku pelajaran yang dibutuhkan sekolah. Apa yang akan Anda lakukan sebagai Kepala Sekolah? Suatu saat, pihak Yayasan/Manajemen Sekolah memanggil Anda untuk mengetahui prosedur dan praktik pemesanan buku-buku tahun ajaran baru di sekolah selama ini. Apa yang Anda katakan? *
Sebagai kepala sekolah yang baru, saya akan mendengarkan dan mempelajari kebiasan yang sudah dilakukan di sekolah tersebut. Kemudian saya akan melihat aturan baku pemesanan buku sesuai dengan peraturan dari Dinas. Bila ternyata terjadi penyimpangan terhadap apa yang biasa dilakukan, maka dengan pel;an saya akan merubahnya, dan mengajak diskusi para wakasek dan penerbit buku tersebut. Kalau memang komisi itu memang dari Penerbit, saya terima dan saya pergunakan untuk kesejahteraan sekolah, saya akan membeli buku-buku lain atau fasilitas lain di sekolah, sehingga uang tersebut tidak digunakan untuk kepentingan pribadi. Pada saat pihak Yayasan atau Manajemen Sekolah memanggil saya, saya akan ceritakan apa adanya, dengan laporan pembukuan yang benar dan sesuai sehingga tidak perlu ada yang saya tutupi. Karena semua lakukan sesuai dengan prosedur, dan untuk kepentingan sekolah, bukan kepentingan pribadi. 

Bagaimana situasi di lingkungan Anda sendiri, adakah nilai-nilai kebajikan yang dijunjung tinggi di tempat Anda bekerja, atau tinggal? Ceritakan pengalaman Anda Anda bagaimana nilai-nilai kebajikan tersebut telah membentuk diri Anda terutama dalam mengambil suatu keputusan?
Nilai kebajukan yang di junjung tinggi adalah kejujuran, membuat laporan sesuai dengan aturan dan kenyataan. Pergunakan uang negara sesuai dengan kebutuhan sekolah, tidak boleh mengambil keuntungan untuk pribadi. Iya hal ini sangat mempengaruhi saya dalam mengambil keputusan, harus selalu berhati- hati, biasakan membaca aturan dahulu sebelum mengambil keputusan, dan selalu mendokumentasikan kegiatan, rapi dalam pembukuan keuangan sehingga semua akan aman, dan kita bisa bekerja dengan hati tenang. 

Apakah Anda pernah mengalami atau melihat suatu pengambilan keputusan serupa studi kasus yang ditanyakan di atas, di mana ada dua kepentingan saling berbenturan? Ceritakan bagaimana pengalaman Anda sendiri di sekolah asal Anda. Apa yang Anda lakukan pada waktu itu, mengapa?
Pernah, pada waktu itu saya menjadi bendahara pelaksaan TO di sekolah, sesuai aturan pengawas TO diberi konsumsi, tetapi ada beberapa guru yang protes karena tahun sebelumnya diberi uang. Saya mengambil keputusan yang berbeda karena saya membaca aturan dana BOS yang mengharuskan saya membuat laporan konsumsi dengan melampirkan foto makanannya, karena saya tidak mau mengarang indah dalam mebuat laporan, maka saya belikan saja konsumsi bukan dalam bentuk uang. Dan hal ini menjadi kontroversi diantara Guru-guru di sekolah. Untuk penyelesaian saya serahkan kepada wakasek kurikulum dan kepala sekolah untuk menyelesaikan konflik ini, untuk mengambil keputusan terbaik dari masalah ini. 

Pernahkah Anda setelah mengambil suatu keputusan, bertanya pada diri sendiri, "Apakah keputusan yang Anda ambil adalah keputusan yang tepat?" "Apakah seharusnya saya mengambil keputusan yang lain?" Kira-kira apa yang membuat Anda mempunyai pemikiran seperti itu? *
Pernah, dan selalu, apalagi bila saya mengambil kepuitusan yang menimbulakn kontroversi di lingkungan, maka saya akan merenung, dan berpikir kembali dengan keputusan yang saya ambil. Kemudian saya akan mencoba berdiskusi dengan orang yang lebih paham, agar keputusan saya selanjutnya bisa lebih tepat. 

Pertanyaan-pertanyaan apa yang ingin Anda tanyakan pada sesi Pengambilan Keputusan berbasis Pemimpin Pembelajaran ini? Apa yang selama ini menjadi tantangan bagi Anda dalam mengambil suatu keputusan sebagai pemimpin pembelajaran?
Bagaimana mengambil keputusan yang tepat di saat kita sedang ada masalah?
Tantangan saya adalah keinginan kebanyakan orang banyak versus aturan yang berlaku, siapa yang harus saya pilih?

Harapan-harapan apa saja yang Anda inginkan dengan mengikuti modul 3. 1-Pengambilan Keputusan berbasis Pemimpin Pembelajaran? Apa yang ingin Anda capai setelah belajar tentang modul 3. 1 ini? 
harapan saya adalah dapat mengambil keputusan yang tepat walaupun dalam waktu cepat dan dalam kondisi terancam 
Saya ingin dapat menguasai ilmu dan mempraktekkan pengambiulan keputusan dengan tepat dan benar.

Harapan-harapan apa saja yang Anda inginkan dengan mengikuti modul 3. 1-Pengambilan Keputusan berbasis Pemimpin Pembelajaran? Apa yang ingin Anda capai setelah belajar tentang modul 3. 1 ini?
Harapan saya mengerti cara mengambil keputusan dalam berbagai kasus di sekolah dan di lingkungan agar saya menjadi p[ribadi yang amanah dan bertanggung jawab.
Saya inhin dapat menguasai semua ilmu pengambilan keputusan dengan benar dan dapat selalu mempraktekkannya, dan dapat mengatasi kendala dan tantangan untuk menjadi pribadi yang adil dan bertanggung jawab

Demikian pemaparan tugas Mulai dari Diri modul 3.1 tentang Pengambilan Keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Mudah-mudahan bermanfaat.... Salam Guru penggerak...😍😍😍