Followers

Thursday, April 14, 2022

3.1.a.5. Ruang Kolaborasi - Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

 

Tujuan Pembelajaran Khusus:  CGP dapat berbagi, berkolaborasi dan menerapkan keterampilan pengambilan keputusan berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan dan  pengujian keputusan.

Pada kegiatan kali ini diadakan dua kali vicon yaitu untuk berdiskusi dan untuk presentasi analisis pembuatan keputusan terhadap kasus yang disepakati oleh kelompok.
Kelas B dibagi menjadi 3 kelompok. Saya masuk ke kelompok 3 yang terdiri dari Pak Ade, Bu Tatat dan saya sendiri. Kami kelompok 3 sepakat untuk mengangkat kasus nyata yang sedang dialami oleh Pk Ade tentang dilema etika tugas kolektor zakat fitrah di desanya. 
Pada hari esoknya kita mengadakan vicon untuk presentasi hasil diskusi kita tentang analisis pengambilan keputusan, kami diminta untuk menyebutkan dilema etika yang terjadi, paradigma yang terjadi, dan terdapat 9 langkah untuk pengambilan keputusan. 

Kelompok 3

1.     Ade Sopyan

2.     Tatat Kurniawati

3.     Wety Dwi Yuningsih

Kasus Nyata dari Pak Ade

Sejak tahun 2018, Pak Ade menjadi petugas kolektor zakat fitrah berdasarkan permintaan bendahara MUI setempat, dan disetujui oleh semua masyarakat. Pak Ade terbukti dapat melaksanakan tugas sebagai kolektor zakat fitrah dengan baik (laporan terpercaya).

Pada tahun ini kepengurusan MUI desa Pak Ade terjadi pergantian pengurus, sementara bendahara yang meminta bantuan kepada Pak Ade sudah tidak menjabat lagi. Bendahara yang terpilih datang ke Pak Ade, untuk meminta kembali Pak Ade bertugas menjadi kolektor zakat fitrah. Dikarenakan kesibukan pak Ade salah satunya mengikuti Program Guru Penggerak, Pak Ade merasa bimbang  dan ragu terhadap pekerjaan ini, karena ia merasa takut tidak bisa mengerjakan seperti tahun lalu,  hal inilah yang  menyebabkan apakah tawaran ini diterima atau ditolak?

A.    Dilema etika yang terjadi

Benar versus Benar, Emang benar bendahara MUI yang baru meminta pak Ade untuk tetap menjadi kolektor zakat fitrah, tetapi benar juga bila pak Ade menolak permintaan untuk menjadi kolektor zakat fitrah dikarenakan kesibukan pak Ade.

B.    Paradigma Dilema etika yang terjadi : Individu lawan masyarakat (individual vs community)

Pak Ade sebagai seorang individu yang mempunyai hak untuk menolak sebagai petugas kolektor zakat fitrah dikarenakan kesibukan yang bisa jadi boomerang untuk Pak Ade sendiri, adanya ketakutan tidak dapat mengemban Amanah tersebut.

Masyarakat menginginkan Pak Ade untuk tetap menjadi petugas kolektor zakat fitrah karena masyarakat percaya dengan kemampuan pak Ade sebagai kolektor zakat fitrah, terbukti dari laporan tiap tahun yang dapat dipertanggungjawabkan.

C.    Prinsip pengambilan keputusan : Berpikir berbasis rasa peduli (Care Based Thinking).

Pak Ade mempunyai kepedulian terhadap kepentingan masyarakat, beliau lebih mendepankan kepentingan masyarakat daripada kepentingan individu.

D.    Memuat 9 langkah pengambilan keputusan

1.     Apa nilai-nilai yang saling bertentangan dalam kasus tersebut?

Nilai-nilai yan salaing bertentangan dalam kasusu tersebut adalah Individu lawan masyarakat (individual vs community)  Bendahara MUI Desa yang merupakan wakil dari pengurus MUI yang baru terbentuk, masih sangat membutuhkan  pak Ade untuk menjadi kolektor zakat fitrah tahun ini, akan tetapi Pak Ade tahun ini merasa sudah tidak sanggup lagi untuk menjadi kolektor Zakat fitrah karena tahun ini meimiliki tambahan kesibukan yakni sedang mengikuti pendidikan calon guru penggerak, belia takut kalau menerima tawaran dari pihak MUI untuk  menjadi kolektor zakat fitrah, dia tidak bisa melaksanakannya dengan baik seperti tahun-tahun sebelumnya.

2.     Siapa yang terlibat dalam situasi tersebut ?

Pak Ade sebagai orang yang diminta sebagai kolektor zakat fitrah

Bendahara MUI desa setempat yang meminta pak Ade untuk menjadi petugas kolektor zakat fitrah

3.     Apa fakta-fakta yang relevan dengan situasi tersebut ?

1)     Bendahara MUI desa setempat meminta kepada pak Ade untuk menjadi petugas kolektor zkat fitrah

2)     Masyarakat percaya bahwa pak Ade adalah orang yang tepat untuk menjadi petugas kolektor zakat fitrah

3)     Pak Ade mempunyai kesibukan diantaranya menjadi peserta pelatihan Guru Penggerak

4)     Pak Ade merasa bimbang apakah masih sanggup menjadi petugas kolektor zakat fitrah dengan kesibukannya sekarang

 

4.     Mari kita lakukan pengujian benar atau salah terhadap situasi tersebut.

·       Apakah ada aspek pelanggaran hukum dalam situasi tersebut? (Uji legal)

Tidak ada apek pelanggaran hukum dalam situasi tersebut

·       Apakah ada pelanggaran peraturan/kode etik profesi dalam kasus tersebut? (Uji regulasi)

Tidak ada pelanggaran peraturan/kode etik dalam kasusu tersebut

·       Berdasarkan perasaan dan intuisi Anda, apakah ada yang salah dalam situasi ini? (Uji intuisi)

Tidak Ada yang salah dalam dalam situasi ini

·       Apa yang anda rasakan bila keputusan Anda dipublikasikan di halaman depan koran? Apakah anda merasa nyaman?

Jika keputusan yan saya ambil dalam kasus seperti ini dipublikasikan, maka saya akan merasa nyaman tidak akan merasa terganggu dengan viralnya atas keputusan saya

·       Kira-kira, apa keputusan yang akan diambil oleh panutan/idola Anda dalam situasi ini?

Keputusan yang mungkin akan diambil oleh panutan/idola saya adalah, atas kepeduliannya teradap program MUI/masyarakat dalam hal ini tentang pengelolaan zakat fitrah, maka ia akan merasa terpanggil untuk menerima dan melaksanakan tugas dan amanah yang dipercayakan  kepadanya dari MUI meskipun dia sangat sibuk.

5.     Jika situasinya adalah situasi dilema etika, paradigma mana yang terjadi pada situasi tersebut?

Paradigma Dilema etika yang terjadi : Individu lawan masyarakat (individual vs community)

ü     Pak Ade sebagai seorang individu yang mempunyai hak untuk menolak sebagai petugas kolektor zakat fitrah dikarenakan kesibukan yang bisa jadi bumerang untuk Pak Ade sendiri, dia merasa ketakutan tidak dapat mengemban Amanah tersebut.

ü     Masyarakat menginginkan Pak Ade untuk tetap menjadi petugas kolektor zakat fitrah karena masyarakat percaya dengan kemampuan pak Ade sebagai kolektor zakat fitrah, terbukti dari laporan tiap tahun yang dapat dipertanggungjawabkan.

 

6.     Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, prinsip mana yang akan dipakai 

Prinsip pengambilan keputusan : Berpikir berbasis rasa peduli (Care Based Thinking).

Pak Ade mempunyai kepedulian terhadap kepentingan masyarakat, beliau lebih mendepankan kepentingan masyarakat daripada kepentingan individu.

7.     Apakah ada sebuah penyelesaian yang kreatif dan  tidak terpikir sebelumnya untuk menyelesaikan masalah ini (Investigasi Opsi Trilemma)?

Ada, yakni pak Ade memberi saran kepada pihak MUI untuk mencari oran lain yang lebi siap dan lebih tepat terlebih dahulu. Dengan cara mengumumkan secara terbuka kemudian merekrut calon/kandidat, selanjutnya MUI melakukan seleksi sampai mendapatkan orang yang tepat.

8.     Apa keputusan yang akan Anda ambil?

Atas perasaan tanggung jawab dan kepedulian terhadap program dan kemajuan masyarakat, maka saya akan merasa terpanggil untuk menerima dan melaksanakan tugas serta amanah yang dipercayakan  kepada saya dari MUI meskipun saya sangat sibuk.

9.     Coba lihat lagi keputusan Anda dan refleksikan.

Saya memutuskan untuk menerima keparcayaan dan tanggung jawab tersebut, dikarenakan:

ü  Rasa peduli terhadap program MUI dalam hal pengelolaan zakat fitrah

ü  Rasa tanggung jawab terhadap kemajuan masyarakat

ü  Rasa takut kalau orang lain yang mengmban amanat ini, dia tidak bisa

ü  Merasa kasihan terhadap bendahara MUI yang mewakili Komunitasnya yang jauh-jauh sengaja datang kepada saya meminta bantuan.

 

Berikut adalah video tugas kolaborasi pengambilan keputusan kelompok 3 


Demikian tadi pemaparan tugas kolaborasi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Mudah-mudahan menginspirasi.... Salam Guru Penggerak...😍😍😍

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomemtar sesuai dengan topik artikel yang di bahas. Tidak boleh memasang link.