LATIHAN SOAL MODEL TKA BIOLOGI KELAS XII • FASE F | POLA HEREDITAS

 

A. SOAL PILIHAN GANDA

1. [Pembentukan gamet] Dalam program pemuliaan, siswa mempelajari tanaman berlabel genotipe CcDdEEffGgHhii. Semua lokus diasumsikan berada pada kromosom berbeda dan mengalami asortasi bebas. Peneliti ingin mengetahui banyaknya kombinasi alel yang mungkin terbawa oleh satu gamet, bukan jumlah gamet yang dihasilkan secara fisik. Genotipe homozigot hanya menyumbangkan satu jenis alel pada setiap lokus, sedangkan genotipe heterozigot menyediakan dua alternatif. Siswa diminta menghitung keragaman gamet dan menjelaskan dasar perhitungannya sebelum merancang persilangan berikutnya. Perhitungan ini menjadi dasar untuk memilih induk yang mampu menghasilkan variasi kombinasi

Banyak macam gamet yang secara teoritis dapat dibentuk adalah ....

A. 4

B. 8

C. 16

D. 32

E. 64

 

2. [Persilangan monohibrid] Di kebun percobaan, dua tanaman ercis berbunga ungu heterozigot disilangkan. Warna ungu ditentukan alel A yang dominan penuh terhadap alel a untuk warna putih. Guru meminta kelompok tidak hanya memperkirakan warna bunga, tetapi membedakan keragaman fenotipe dari keragaman genotipe keturunan. Mereka membuat kotak Punnett untuk seluruh kombinasi gamet yang mungkin dan membandingkan hasilnya. Kondisi lingkungan dianggap seragam, sehingga perbedaan sifat hanya ditafsirkan melalui segregasi alel menurut hukum Mendel. Hasil pengamatan kemudian diuji dengan peluang keturunan untuk memastikan perbandingan tiap jenis

Berapa macam genotipe keturunan dari persilangan Aa × Aa?

A. 1

B. 2

C. 3

D. 4

E. 5

 

3. [Dominansi tidak sempurna] Seorang siswa menanam bunga pukul empat (Mirabilis jalapa) merah murni dan merah muda. Pada tumbuhan ini, alel merah R menunjukkan dominansi tidak sempurna terhadap alel putih r, sehingga Rr menghasilkan bunga merah muda. Siswa menyilangkan tanaman merah RR dengan tanaman merah muda Rr. Setelah biji berkecambah, ia ingin memprediksi distribusi warna keturunan sebagai pembanding hasil lapangan. Guru mengingatkan agar siswa tidak langsung menggunakan perbandingan monohibrid 3:1 tanpa memeriksa genotipe induk. Mereka juga mendiskusikan mengapa fenotipe heterozigot tidak sama dengan salah

Rasio fenotipe merah : merah muda pada keturunan adalah ....

A. 100% merah

B. 100% putih

C. 1 : 1

D. 3 : 1

E. 1 : 2 : 1

 

4. [Gamet persilangan dihibrid] Untuk merancang persilangan percobaan, peserta didik mendapat tanaman dengan genotipe AaBbCC. Gen A dan B diasumsikan terletak pada pasangan kromosom berbeda sehingga dapat berasortasi bebas, sedangkan lokus C bersifat homozigot. Mereka menguraikan kemungkinan alel yang masuk ke setiap gamet. Hasil analisis tersebut akan digunakan untuk memprediksi keturunan setelah disilangkan dengan galur penguji. Salah satu kelompok keliru memasukkan kombinasi dua alel dari lokus yang sama ke dalam satu gamet, lalu memperbaikinya. Prosedur pencatatan gamet harus mengikuti aturan bahwa satu gamet membawa

Kumpulan tipe gamet yang mungkin adalah ....

A. ABC, AbC, aBC, abC

B. ABC, ABc, AbC, aBc

C. AB, Ab, aB, ab

D. Aa, Bb, CC

E. ABC dan abC

 

5. [Uji silang dihibrid] Seorang peneliti menyilangkan tumbuhan berbunga kuning berdaun bulat dengan tumbuhan berbunga putih berdaun lancip. Alel K dan B dominan atas k dan b, dan kedua gen berasortasi bebas. Empat kelompok fenotipe pada keturunan muncul dalam jumlah hampir sama, yaitu kuning bulat, putih bulat, kuning lancip, serta putih lancip. Tim diminta mengidentifikasi susunan alel induk yang paling masuk akal. Mereka perlu menilai hasil segregasi kedua sifat secara bersamaan, bukan hanya satu sifat. Setiap kelas fenotipe ditentukan oleh kombinasi dua lokus yang

Genotipe kedua induk paling sesuai adalah ....

A. KkBB × kkbb

B. KKBB × kkbb

C. KKBb × kkbb

D. KkBb × KKBB

E. KkBb × kkbb

 

6. [Epistasis dominan] Di laboratorium pertanian, warna kulit biji gandum dipengaruhi oleh dua lokus. Kehadiran alel dominan H menghasilkan warna hitam dan menutupi ekspresi lokus K. Jika hh, alel K menghasilkan kuning, sedangkan hhkk menghasilkan putih. Galur HHKK disilangkan dengan hhkk sehingga seluruh F1 HhKk berwarna hitam. Ketika F1 disilangkan sesamanya, siswa ingin menguji pola interaksi antargen. Mereka harus mengelompokkan genotipe F2 menurut aturan epistasis, bukan memakai rasio fenotipe dihibrid biasa. Rasio yang tepat membantu petani memperkirakan proporsi setiap warna biji pada generasi

Rasio fenotipe hitam : kuning : putih pada F2 adalah ....

A. 12 : 3 : 4

B. 12 : 3 : 1

C. 15 : 1

D. 9 : 3 : 3 : 1

E. 9 : 3 : 4

 

7. [Pindah silang] Dalam uji silang tanaman ercis BbHh dengan bbhh, dua fenotipe keturunan dominan berjumlah 42 dan 38 individu, sedangkan dua fenotipe lain berjumlah 8 dan 12 individu. Analisis posisi alel menunjukkan kelompok berjumlah besar merupakan tipe parental. Peneliti menduga kedua gen terpaut tetapi dapat dipisahkan melalui pindah silang saat meiosis. Siswa diminta menghitung frekuensi rekombinasi dari seluruh keturunan, lalu menggunakan persentase itu sebagai perkiraan jarak genetik kedua lokus pada peta kromosom. Frekuensi tersebut tidak boleh melebihi nilai batas yang lazim digunakan

Nilai pindah silang yang diperoleh adalah ....

A. 100%

B. 80%

C. 60%

D. 40%

E. 20%

 

8. [Penentuan kelamin Drosophila] Peneliti genetika memeriksa lalat buah Drosophila melanogaster yang memiliki tiga pasang autosom dan kromosom kelamin XXY. Seorang siswa menganggap keberadaan kromosom Y pasti membuat lalat menjadi jantan karena menyamakan mekanismenya dengan manusia. Guru menjelaskan bahwa pada Drosophila, penentuan jenis kelamin terutama bergantung pada rasio kromosom X terhadap set autosom, sedangkan kromosom Y berperan dalam kesuburan jantan. Siswa kemudian menghitung rasio X:A dan membandingkannya dengan karakter fenotipe yang diperkirakan dari kariotipe. Perhitungan rasio kromosom ini tidak sama dengan mekanisme penentuan jenis

Jenis kelamin lalat dengan formula 3AA + XXY adalah ....

A. Betina super

B. Betina

C. Jantan steril

D. Jantan letal

E. Interseks

 

9. [Persilangan dihibrid] Petani jeruk menyilangkan galur murni berbuah lebat berasa asam dengan galur murni berbuah sedikit berasa manis. F1 seluruhnya berbuah lebat dan manis, sehingga lebat (L) dan manis (M) dianggap dominan. F1 yang bergenotipe LlMm kemudian disilangkan sesamanya dengan asumsi kedua gen berasortasi bebas. Dari pembibitan diperoleh 640 tanaman F2. Petani ingin menghitung banyak tanaman berbuah sedikit dan asam untuk membandingkan prediksi teoritis dengan data panen yang akan dicatat. Perhitungan dilakukan sebelum pemilihan bibit berdasarkan kombinasi sifat yang diinginkan oleh petani.

Perkiraan jumlah F2 berbuah sedikit dan asam adalah ....

A. 10

B. 40

C. 120

D. 360

E. 640

 

10. [Intermediet dan prediksi populasi] Di rumah kaca, bunga dengan dominansi tidak sempurna menunjukkan merah untuk RR, merah muda untuk Rr, dan putih untuk rr. Seorang siswa menyilangkan bunga merah muda dengan bunga putih untuk menghasilkan bibit yang dapat dipakai dalam pembelajaran. Setelah 50 biji ditanam, ia akan membandingkan jumlah bunga yang muncul dengan peluang genetik. Guru menegaskan bahwa persilangan tersebut berbeda dari merah muda dengan merah muda, sehingga perkiraan fenotipe harus dihitung kembali memakai gamet masing-masing induk. Dengan demikian perkiraan jumlah anak tidak boleh

Dari 50 keturunan, jumlah yang diperkirakan berbunga putih adalah ....

A. 25

B. 20

C. 15

D. 10

E. 5

 

11. [Interaksi gen bentuk jengger] Seorang peternak mengamati bentuk jengger ayam yang dipengaruhi dua gen, R dan P. Kombinasi R_P_ menghasilkan walnut, R_pp menghasilkan mawar, rrP_ menghasilkan pea, dan rrpp menghasilkan bilah. Ayam walnut homozigot RRPP disilangkan dengan ayam bilah rrpp, sehingga semua F1 RrPp. Peternak kemudian menyilangkan satu ayam F1 dengan ayam RrPP dan memperoleh 16 anak. Siswa diminta memperkirakan banyak anak berjengger walnut berdasarkan peluang kedua lokus, dengan mengabaikan variasi sampel. Perkiraan dilakukan memakai aturan peluang pada setiap lokus lalu mengalikan hasilnya. Perkiraan

Jumlah anak ayam walnut yang diperkirakan adalah ....

A. 4

B. 6

C. 8

D. 10

E. 12

 

12. [Gen komplementer] Dalam kajian kasus ketulian herediter, dua gen D dan E diasumsikan sama-sama diperlukan untuk fungsi pendengaran normal, sehingga individu D_E_ memiliki pendengaran normal. Individu ddE_ atau D_ee dapat mengalami ketulian pada model sederhana ini. Dua orang tua dengan gangguan pendengaran memiliki anak yang pendengarannya normal. Siswa menyimpulkan mutasi penyebab ketulian mungkin berada pada gen yang berbeda di kedua orang tua. Mereka menilai kombinasi genotipe yang memungkinkan saling melengkapi pada keturunan. Model ini adalah contoh sederhana interaksi gen komplementer dalam pembelajaran

Pasangan genotipe orang tua yang dapat menghasilkan anak normal adalah ....

A. Ddee × ddee

B. ddEE × ddEe

C. ddEe × ddEe

D. DDee × ddEE

E. Ddee × Ddee

 

13. [Interaksi gen polimeri] Tanaman gandum berkulit merah disilangkan dengan galur berkulit putih. Semua F1 merah. Pada F2, pengamat menghitung 90 biji merah dan 7 biji putih. Dari pemeriksaan genetik diketahui terdapat dua gen dominan yang masing-masing cukup untuk menghasilkan warna merah; warna putih hanya muncul bila keduanya homozigot resesif. Siswa diminta menghubungkan distribusi fenotipe dengan interaksi gen nonalelik. Mereka membandingkan rasio teoretis yang paling sesuai dengan data sampel tanpa menganggap jumlah pengamatan harus tepat identik. Rasio hasil pengamatan dapat sedikit menyimpang dari rasio

Pola interaksi yang paling sesuai adalah ....

A. Komplementer 9:7

B. Epistasis resesif 9:3:4

C. Epistasis dominan 12:3:1

D. Polimeri nonkumulatif 15:1

E. Mendel dihibrid 9:3:3:1

 

14. [Nondisjunction] Seorang konselor genetika menjelaskan bahwa pada pembentukan ovum dapat terjadi gagal berpisah kromosom kelamin X. Dalam kasus tertentu, dua kromatid X masuk ke satu sel telur, sementara sel telur lainnya tidak memperoleh kromosom X. Keduanya tetap membawa 22 autosom karena pemisahan autosom berlangsung normal. Peserta didik diminta membedakan gamet yang abnormal dengan gamet normal serta memprediksi kemungkinan akibat fertilisasi. Pembahasan dibatasi pada ketidakterpisahan kromosom kelamin X, bukan keseluruhan autosom. Keadaan ini menunjukkan perubahan jumlah kromosom, bukan perubahan urutan basa DNA.

Pasangan susunan ovum abnormal yang mungkin dihasilkan adalah ....

A. 22A + X saja

B. 22A + XX dan 22A + 0

C. 22A + Y dan 22A + X

D. 44A + XY

E. 22A + XY saja

 

15. [Pautan gen pada tomat] Pada tanaman tomat, buah bulat (O) dominan atas oval (o), sedangkan batang berambut (H) dominan atas tidak berambut (h). Peneliti melakukan uji silang tanaman OoHh dengan oohh dan mendapati 32 buah bulat berambut, 7 bulat tidak berambut, 5 oval berambut, dan 56 oval tidak berambut. Dua kelompok terbesar dipandang sebagai parental. Siswa ingin menentukan persentase keturunan rekombinan dan mempertimbangkan apakah kedua gen mungkin terpaut pada satu kromosom. Pengujian ini membantu mengidentifikasi apakah lokus O dan H diwariskan secara independen. Pengujian

Nilai pindah silang dari hasil persilangan tersebut adalah ....

A. 7%

B. 12%

C. 15%

D. 17%

E. 23%

 

16. [Pautan gen dan variasi gamet] Siswa menganalisis genotipe tanaman AaBBDdTtRr. Hasil pemetaan menunjukkan gen A dan D terpaut sempurna dalam susunan AD/ad, sedangkan gen T dan R berasortasi bebas satu sama lain dan dari pasangan AD. Lokus B selalu membawa B karena homozigot. Dalam kondisi ini diasumsikan tidak ada pindah silang antara A dan D. Kelompok diminta menghitung tipe gamet yang mungkin tanpa keliru menganggap semua lokus heterozigot menghasilkan kombinasi bebas terhadap satu sama lain. Asumsi pautan sempurna perlu dipertahankan sepanjang perhitungan agar hasil tidak

Banyak macam gamet yang dihasilkan adalah ....

A. 1

B. 2

C. 4

D. 8

E. 16

 

17. [Rekombinasi pada lalat buah] Pada uji silang lalat buah, betina berbadan abu-abu bersayap panjang dengan genotipe GgLl disilangkan dengan pejantan ggll. Hasil keturunan terdiri atas 820 abu-abu panjang, 180 abu-abu pendek, 195 hitam panjang, dan 800 hitam pendek. Gen G dan L diketahui berada dalam fase pautan GL/gl. Keturunan dengan sifat tidak menyerupai kombinasi parental dianggap rekombinan. Siswa menghitung frekuensi pindah silang berdasarkan seluruh anak yang diamati untuk memperkirakan jarak genetik kedua gen tersebut. Frekuensi yang dihitung merupakan perkiraan dari data, bukan peluang yang

Frekuensi rekombinasi yang paling mendekati adalah ....

A. 4%

B. 9%

C. 19%

D. 23%

E. 24%

 

18. [Gamet rekombinan] Dalam kajian pautan, seorang siswa meneliti individu bergenotipe DdMMRr. Data keluarga menyatakan alel D dan R berada dalam susunan terpaut DR/dr. Lokus M homozigot, sehingga setiap gamet pasti membawa M. Saat meiosis sebagian sel mengalami pindah silang antara lokus D dan R. Kelompok siswa diminta membedakan dua gamet parental dari dua gamet rekombinan. Mereka menggambar pasangan kromatid sebelum dan setelah pertukaran segmen untuk memeriksa bahwa kombinasi baru benar-benar berasal dari rekombinasi. Persilangan penguji dapat digunakan untuk mengamati keturunan dengan kombinasi

Pasangan gamet rekombinan adalah ....

A. DMR dan dMr

B. dMr dan DMr

C. DMr dan dMR

D. DMR dan dmr

E. DMr dan DMR

 

19. [Frekuensi rekombinasi] Laboratorium pemuliaan melaporkan hasil uji silang untuk dua gen terpaut. Data pengamatan mengelompokkan 2.000 individu sebagai keturunan dengan fenotipe parental dan 500 individu sebagai rekombinan. Seorang siswa semula membagi jumlah rekombinan hanya dengan jumlah parental, tetapi teman sekelompoknya mengingatkan bahwa frekuensi rekombinasi memakai jumlah seluruh keturunan sebagai penyebut. Mereka menghitung ulang nilai tersebut untuk menilai seberapa jauh dua gen terpisah pada peta pautan dan membandingkannya dengan batas maksimum frekuensi rekombinasi. Nilai tersebut dapat dinyatakan sebagai satuan sentimorgan bila sesuai asumsi

Nilai frekuensi rekombinasi adalah ....

A. 15%

B. 20%

C. 22,5%

D. 25%

E. 40%

 

20. [Rasio fenotipe dihibrid] Guru Biologi menugaskan siswa memilih persilangan dua sifat yang menghasilkan empat fenotipe dengan perbandingan 3:1:3:1 dalam salah satu urutan pencatatan. Gen P dan Q menunjukkan dominansi penuh dan berasortasi bebas. Siswa menguji setiap kandidat dengan memisahkan peluang fenotipe pada lokus P dan lokus Q. Perkalian peluang digunakan untuk menghasilkan kombinasi fenotipe. Guru menekankan bahwa rasio 3:1:3:1 bukan rasio khas AaBb × AaBb yang menghasilkan 9:3:3:1. Kedua gen perlu dihitung secara terpisah sebelum rasio fenotipenya digabungkan. Kedua gen perlu dihitung secara

Persilangan yang menghasilkan kelompok fenotipe dengan rasio 3:1:3:1 adalah ....

A. PpQQ × ppQq

B. PpQq × ppQq

C. PpQq × PpQq

D. Ppqq × ppqq

E. PPqq × PpQQ

 

21. [Inferensi genotipe dari gamet] Dalam latihan genetika, satu tanaman menghasilkan gamet bertipe ABC, Abc, aBc, AbC, abC, dan abc. Daftar tersebut merupakan sampel tipe gamet yang teramati, bukan daftar lengkap semua kemungkinan, sehingga sebagian tipe mungkin belum ditemukan. Guru meminta siswa menentukan genotipe induk yang paling mungkin dari keberadaan alel besar maupun kecil pada setiap lokus. Peserta didik harus memahami bahwa bila suatu individu menghasilkan alel A dan a, maka lokus A bersifat heterozigot, demikian pula lokus lainnya. Ketiadaan beberapa tipe pada sampel tidak

Genotipe induk yang konsisten dengan data gamet adalah ....

A. AABBCC

B. AaBBCc

C. AaBbCC

D. AaBbCc

E. AABbCc

 

22. [Peluang galur unggul murni] Pada kacang ercis, buah besar (B) dominan atas kecil (b), sementara batang tinggi (T) dominan atas rendah (t). Petani menyilangkan galur murni BBTT dengan bbtt sehingga seluruh F1 BbTt. Setelah F1 disilangkan sesamanya, petani tidak sekadar mencari tanaman yang tampak besar dan tinggi, melainkan galur unggul murni BBTT yang akan selalu menurunkan kedua sifat dominan bila disilangkan sesamanya. Asumsikan asortasi bebas dan tidak ada pengaruh lingkungan pada penentuan sifat. Sifat unggul secara penampakan harus dibedakan dari kondisi homozigot untuk pemuliaan.

Peluang F2 memiliki genotipe BBTT adalah ....

A. 56,25%

B. 25%

C. 18,75%

D. 12,5%

E. 6,25%

 

23. [Dominansi tidak sempurna tiga sifat] Seorang pemulia mengamati tiga ciri biji kacang. Untuk warna, alel M menunjukkan dominansi tidak sempurna: MM merah, Mm merah muda, dan mm putih. Untuk bentuk, B dominan menghasilkan bulat sedangkan bb lonjong. Untuk permukaan kulit, L dominan menghasilkan licin dan ll kisut. Pengamat menemukan biji merah muda, lonjong, dan licin, lalu mencoba menghubungkan fenotipe tersebut dengan kemungkinan genotipe. Siswa diingatkan bahwa sifat licin dapat berasal dari LL atau Ll, sehingga ada lebih dari satu genotipe yang cocok. Keputusan dibuat berdasarkan

Manakah genotipe yang sesuai dengan biji merah muda, lonjong, dan licin?

A. MmBbLl

B. MmbbLL

C. MmBbll

D. MMbbLL

E. Mmbbll

 

Komentar

Postingan Populer