Ulangan Uraian HOTS Bab Ekologi Kelas X / Fase E
Ulangan Uraian HOTS Bab Ekologi
Kelas X / Fase E
Bentuk soal: Uraian analisis berbasis kasus
Jumlah soal: 5 soal
Soal 1 — Faktor Abiotik dan Biotik
Ekosistem
Stimulus Kasus
Di sebuah kebun sekolah, siswa mengamati bahwa tanaman
cabai yang berada di dekat tembok tumbuh lebih pendek dan daunnya lebih pucat
dibandingkan tanaman cabai yang berada di area terbuka. Setelah diamati, area
dekat tembok hanya mendapat cahaya matahari sekitar 2 jam per hari, tanahnya
lebih lembap, dan banyak ditumbuhi lumut. Sementara itu, tanaman di area
terbuka mendapat cahaya matahari hampir sepanjang hari, tanahnya lebih kering,
dan banyak ditemukan serangga seperti lebah, semut, serta kupu-kupu. Guru
meminta siswa menganalisis penyebab perbedaan pertumbuhan tanaman tersebut
berdasarkan komponen ekosistem.
Soal
Analisislah hubungan antara faktor abiotik dan faktor
biotik yang menyebabkan perbedaan pertumbuhan tanaman cabai pada dua lokasi
tersebut!
Jawaban
Perbedaan pertumbuhan tanaman cabai disebabkan oleh
perbedaan faktor abiotik dan biotik pada masing-masing lokasi. Di dekat tembok,
cahaya matahari lebih sedikit sehingga proses fotosintesis tanaman cabai kurang
optimal. Akibatnya, pertumbuhan tanaman menjadi lebih lambat, batang pendek,
dan daun tampak pucat. Tanah yang terlalu lembap juga dapat memengaruhi kondisi
akar dan memungkinkan lumut tumbuh lebih banyak.
Di area terbuka, tanaman mendapat cahaya matahari
cukup sehingga fotosintesis berjalan lebih baik. Selain itu, adanya serangga
seperti lebah dan kupu-kupu dapat membantu proses penyerbukan. Semut dan
organisme lain juga menunjukkan adanya aktivitas biotik dalam ekosistem
tersebut. Jadi, pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh interaksi antara cahaya,
kelembapan tanah, organisme sekitar, dan kondisi lingkungan.
Pembahasan
Faktor abiotik adalah komponen tak hidup seperti
cahaya matahari, air, tanah, suhu, dan kelembapan. Faktor biotik adalah makhluk
hidup seperti tumbuhan, hewan, jamur, bakteri, dan manusia. Dalam kasus
tersebut, cahaya matahari menjadi faktor penting karena memengaruhi
fotosintesis. Serangga juga berperan sebagai komponen biotik yang dapat
membantu penyerbukan. Maka, pertumbuhan tanaman tidak hanya ditentukan oleh
satu faktor, tetapi oleh hubungan antara faktor abiotik dan biotik dalam
ekosistem.
Soal 2 — Interaksi Antarspesies dalam
Ekosistem
Stimulus Kasus
Di area persawahan, petani sering menemukan burung
kuntul berada di sekitar kerbau yang sedang membajak sawah. Ketika kerbau
berjalan di lumpur, banyak serangga kecil keluar dari tanah dan dimakan oleh
burung kuntul. Kerbau tampak tidak dirugikan oleh kehadiran burung tersebut. Di
sawah yang sama, terdapat tanaman padi yang sering diserang wereng. Untuk
mengurangi serangan wereng, beberapa petani mulai mengurangi penggunaan
pestisida dan membiarkan laba-laba serta capung berkembang di sekitar sawah.
Setelah beberapa minggu, jumlah wereng mulai berkurang dan tanaman padi tumbuh
lebih baik.
Soal
Analisislah jenis-jenis interaksi antarspesies yang
terjadi pada kasus tersebut dan jelaskan dampaknya terhadap keseimbangan
ekosistem sawah!
Jawaban
Pada kasus tersebut terdapat beberapa bentuk interaksi
antarspesies. Interaksi antara burung kuntul dan kerbau termasuk komensalisme.
Burung kuntul mendapat keuntungan karena memperoleh makanan berupa serangga
kecil yang keluar dari tanah, sedangkan kerbau tidak dirugikan maupun
diuntungkan secara langsung.
Interaksi antara wereng dan tanaman padi termasuk
herbivori atau parasitisme dalam arti luas karena wereng mengambil cairan dari
tanaman padi sehingga tanaman dirugikan. Interaksi antara laba-laba atau capung
dengan wereng termasuk predasi karena laba-laba dan capung memangsa wereng.
Dampaknya terhadap ekosistem sawah adalah populasi
wereng dapat dikendalikan secara alami. Jika predator alami seperti laba-laba
dan capung tetap ada, keseimbangan ekosistem lebih terjaga dan penggunaan
pestisida dapat dikurangi.
Pembahasan
Interaksi antarspesies dapat berupa predasi,
kompetisi, mutualisme, komensalisme, parasitisme, dan herbivori. Dalam
ekosistem sawah, setiap organisme memiliki peran. Predator alami membantu
mengendalikan populasi hama. Jika pestisida digunakan berlebihan, predator
alami dapat ikut mati sehingga populasi hama justru dapat meningkat kembali.
Oleh karena itu, menjaga keanekaragaman organisme di sawah penting untuk
mempertahankan keseimbangan ekosistem.
Soal 3 — Rantai Makanan, Jaring Makanan,
dan Piramida Ekologi
Stimulus Kasus
Di sebuah ekosistem danau, terdapat fitoplankton,
zooplankton, ikan kecil, ikan besar, dan burung pemakan ikan. Fitoplankton
berperan sebagai produsen karena mampu melakukan fotosintesis. Zooplankton
memakan fitoplankton, ikan kecil memakan zooplankton, ikan besar memakan ikan
kecil, dan burung memakan ikan besar. Suatu ketika, limbah rumah tangga masuk
ke danau dan menyebabkan air menjadi keruh. Akibatnya, cahaya matahari sulit
menembus air. Beberapa minggu kemudian, jumlah fitoplankton menurun, ikan kecil
berkurang, dan burung pemakan ikan semakin jarang terlihat di sekitar danau.
Soal
Analisislah dampak penurunan fitoplankton terhadap
rantai makanan dan piramida ekologi di ekosistem danau tersebut!
Jawaban
Penurunan fitoplankton akan berdampak besar terhadap
seluruh rantai makanan karena fitoplankton merupakan produsen utama. Jika
jumlah fitoplankton menurun, zooplankton akan kekurangan makanan. Akibatnya,
populasi zooplankton ikut menurun. Penurunan zooplankton menyebabkan ikan kecil
kekurangan sumber makanan, kemudian ikan besar juga berkurang karena mangsanya
menurun. Pada akhirnya, burung pemakan ikan juga semakin jarang karena jumlah
ikan besar sebagai makanannya berkurang.
Dalam piramida ekologi, produsen berada di dasar
piramida dan menjadi sumber energi bagi tingkat trofik berikutnya. Jika dasar
piramida mengecil, maka tingkat trofik di atasnya juga terganggu. Energi yang
tersedia bagi konsumen primer, sekunder, dan tersier menjadi semakin sedikit.
Pembahasan
Rantai makanan menunjukkan aliran energi dari produsen
ke konsumen. Fitoplankton sebagai produsen sangat penting karena menjadi sumber
energi awal. Pada piramida ekologi, jumlah energi terbesar berada pada tingkat
produsen. Semakin tinggi tingkat trofik, energi yang tersedia semakin kecil.
Jika produsen menurun, seluruh struktur piramida terganggu. Kasus ini
menunjukkan bahwa pencemaran air dapat mengganggu fotosintesis, menurunkan
produktivitas produsen, dan memengaruhi keseimbangan populasi dalam ekosistem.
Soal 4 — Produktivitas Ekosistem dan Daur
Biogeokimia
Stimulus Kasus
Sebuah hutan kecil di dekat pemukiman warga mengalami
perubahan setelah sebagian pohonnya ditebang untuk membuka lahan parkir.
Sebelum penebangan, tanah di hutan tersebut lembap, banyak serasah daun, banyak
cacing tanah, dan udara terasa sejuk. Setelah pohon berkurang, suhu lingkungan
meningkat, tanah menjadi lebih kering, dan saat hujan air lebih cepat mengalir
ke selokan. Warga juga melihat daun-daun kering tidak lagi banyak menumpuk
karena jumlah pohon menurun. Beberapa siswa menduga bahwa penebangan pohon
tidak hanya mengurangi jumlah tumbuhan, tetapi juga mengganggu siklus air,
karbon, dan unsur hara di lingkungan tersebut.
Soal
Analisislah bagaimana penebangan pohon dapat
memengaruhi produktivitas ekosistem serta daur air, karbon, dan unsur hara di
hutan kecil tersebut!
Jawaban
Penebangan pohon dapat menurunkan produktivitas
ekosistem karena jumlah produsen berkurang. Pohon sebagai produsen melakukan
fotosintesis dan menghasilkan bahan organik yang menjadi sumber energi bagi
organisme lain. Jika jumlah pohon menurun, produksi bahan organik juga menurun
sehingga makanan dan habitat bagi organisme lain ikut berkurang.
Penebangan pohon juga memengaruhi daur air. Akar pohon
biasanya membantu menyerap air hujan dan menjaga kelembapan tanah. Ketika pohon
berkurang, air hujan lebih cepat mengalir ke selokan dan tanah menjadi lebih
kering. Pada daur karbon, berkurangnya pohon menyebabkan penyerapan karbon
dioksida melalui fotosintesis menurun. Pada daur unsur hara, berkurangnya
serasah daun menyebabkan bahan organik yang dapat diuraikan oleh decomposer
seperti cacing, jamur, dan bakteri menjadi lebih sedikit.
Pembahasan
Produktivitas ekosistem berkaitan dengan kemampuan
produsen menghasilkan bahan organik melalui fotosintesis. Pohon juga berperan
dalam daur biogeokimia, seperti daur air, karbon, dan unsur hara. Serasah daun
yang jatuh akan diuraikan menjadi mineral yang menyuburkan tanah. Jika vegetasi
berkurang, maka aliran energi, penyimpanan air, penyerapan karbon, dan
pengembalian unsur hara ke tanah akan terganggu. Hal ini menunjukkan bahwa
pohon memiliki peran penting dalam menjaga kestabilan ekosistem.
Soal 5 — Suksesi Primer dan Suksesi
Sekunder
Stimulus Kasus
Di sebuah daerah, terjadi kebakaran lahan akibat musim
kemarau panjang. Setelah api padam, sebagian besar rumput, semak, dan pohon
kecil terbakar. Namun, tanah di area tersebut masih ada dan beberapa biji
tumbuhan masih tersisa di dalam tanah. Beberapa bulan kemudian, mulai tumbuh
rumput-rumput kecil. Setelah satu tahun, semak mulai muncul, lalu diikuti oleh
tumbuhan berkayu kecil. Guru Biologi membandingkan kejadian ini dengan daerah
bekas letusan gunung api yang awalnya hanya berupa batuan baru tanpa tanah.
Pada daerah tersebut, organisme pertama yang tumbuh biasanya lumut kerak dan
lumut.
Soal
Bandingkan proses suksesi pada lahan bekas kebakaran
dan daerah bekas letusan gunung api! Jelaskan perbedaan penyebab, tahapan awal,
dan kecepatan pemulihannya!
Jawaban
Suksesi pada lahan bekas kebakaran termasuk suksesi
sekunder karena sebelumnya sudah ada ekosistem, tanah masih tersedia, dan masih
mungkin terdapat biji atau akar tumbuhan yang tersisa. Tahapan awalnya biasanya
dimulai dari tumbuhan pionir seperti rumput, kemudian semak, lalu tumbuhan
berkayu kecil, dan akhirnya dapat berkembang menjadi ekosistem yang lebih
stabil. Proses pemulihannya relatif lebih cepat karena tanah dan sebagian unsur
hara masih ada.
Sementara itu, suksesi pada daerah bekas letusan
gunung api termasuk suksesi primer jika wilayah tersebut benar-benar baru,
berupa batuan tanpa tanah. Tahapan awalnya dimulai oleh organisme pionir
seperti lumut kerak dan lumut yang mampu hidup di permukaan batuan. Organisme
tersebut membantu membentuk tanah secara perlahan. Proses suksesi primer lebih
lama karena harus dimulai dari pembentukan tanah terlebih dahulu.
Pembahasan
Suksesi adalah perubahan bertahap dalam komunitas
ekosistem menuju kondisi yang lebih stabil. Suksesi primer terjadi di tempat
yang belum memiliki tanah, misalnya batuan baru akibat letusan gunung api.
Suksesi sekunder terjadi di tempat yang sebelumnya sudah memiliki ekosistem,
tetapi mengalami gangguan, misalnya kebakaran, banjir, atau penebangan.
Perbedaan utama keduanya terletak pada keberadaan tanah. Jika tanah masih ada,
pemulihan biasanya lebih cepat. Jika tanah belum ada, prosesnya lebih lama karena
harus diawali pembentukan tanah oleh organisme pionir.
Rubrik Penilaian Singkat
|
Aspek yang Dinilai |
Skor Maksimal |
|
Mampu mengidentifikasi konsep ekologi yang sesuai
dengan kasus |
2 |
|
Mampu menganalisis hubungan sebab-akibat dalam
ekosistem |
3 |
|
Mampu menggunakan istilah biologi dengan tepat |
2 |
|
Jawaban logis, runtut, dan sesuai konteks kasus |
2 |
|
Memberikan kesimpulan atau solusi yang relevan |
1 |
|
Total per soal |
10 |
Total nilai maksimal: 50 poin.
.png)

Comments
Post a Comment
Silahkan berkomemtar sesuai dengan topik artikel yang di bahas. Tidak boleh memasang link.