Ulangan Uraian HOTS Biologi Materi: Jamur/Fungi Kelas X / Fase E

 


Ulangan Uraian HOTS Biologi

Materi: Jamur/Fungi

Kelas X / Fase E


Soal 1 — Ciri Umum Fungi dan Perannya dalam Kehidupan

Stimulus Kasus

Di sebuah sekolah, siswa melakukan pengamatan terhadap roti yang disimpan selama beberapa hari di tempat lembap. Pada hari pertama, roti masih terlihat normal. Namun, setelah empat hari, muncul bercak putih kehijauan seperti kapas di permukaan roti. Ketika diamati lebih dekat, bercak tersebut semakin meluas dan roti mulai berbau tidak sedap. Sebagian siswa mengira bahwa jamur tersebut termasuk tumbuhan kecil karena terlihat tumbuh di permukaan roti. Namun, siswa lain berpendapat bahwa jamur berbeda dengan tumbuhan karena tidak memiliki klorofil dan memperoleh makanan dengan cara menyerap zat organik dari lingkungannya.

Pertanyaan

Analisislah mengapa jamur pada roti tidak dapat digolongkan sebagai tumbuhan. Jelaskan ciri-ciri fungi yang tampak pada kasus tersebut dan hubungkan dengan cara jamur memperoleh makanan.

Kunci Jawaban

Jamur pada roti tidak dapat digolongkan sebagai tumbuhan karena jamur tidak memiliki klorofil sehingga tidak mampu melakukan fotosintesis. Jamur memperoleh makanan secara heterotrof, yaitu menyerap zat organik dari bahan tempat hidupnya. Pada kasus roti berjamur, jamur hidup pada roti yang mengandung zat organik seperti karbohidrat. Jamur mengeluarkan enzim untuk menguraikan bahan organik pada roti, kemudian menyerap hasil penguraiannya sebagai nutrisi.

Ciri fungi yang tampak pada kasus tersebut adalah hidup di tempat lembap, tumbuh sebagai benang-benang halus menyerupai kapas, berkembang pada bahan organik, dan menyebabkan pembusukan. Benang-benang halus tersebut merupakan hifa, sedangkan kumpulan hifa membentuk miselium. Jadi, jamur berperan sebagai organisme pengurai yang memanfaatkan bahan organik mati sebagai sumber makanan.

Pembahasan

Soal ini menuntut siswa membedakan fungi dengan tumbuhan berdasarkan cara memperoleh makanan. Walaupun jamur tampak “tumbuh” seperti tumbuhan, jamur tidak melakukan fotosintesis. Jamur bersifat heterotrof absorptif, yaitu mencerna makanan di luar tubuh menggunakan enzim, lalu menyerap hasil penguraian. Kasus roti berjamur menunjukkan bahwa fungi berperan sebagai saprofit atau pengurai bahan organik mati.


Soal 2 — Reproduksi Fungi dan Penyebaran Spora

Stimulus Kasus

Seorang siswa menyimpan tempe mentah di dapur yang lembap dan kurang terkena cahaya. Setelah beberapa waktu, permukaan tempe tampak ditumbuhi benang-benang putih yang semakin tebal. Jika tempe dibiarkan terlalu lama, muncul bagian berwarna kehitaman pada permukaannya. Guru menjelaskan bahwa jamur pada tempe awalnya membantu proses fermentasi, tetapi jika pertumbuhannya tidak terkendali, kualitas tempe dapat menurun. Jamur berkembang biak dengan membentuk spora yang mudah tersebar oleh udara. Kondisi lembap, hangat, dan tersedia bahan organik membuat spora jamur mudah tumbuh menjadi individu baru.

Pertanyaan

Analisislah hubungan antara kondisi lingkungan, pembentukan spora, dan pertumbuhan jamur pada tempe. Mengapa jamur dapat menyebar dengan cepat pada bahan makanan?

Kunci Jawaban

Jamur dapat tumbuh cepat pada tempe karena lingkungan dapur lembap, hangat, dan tempe mengandung banyak bahan organik sebagai sumber nutrisi. Spora jamur yang tersebar di udara dapat menempel pada permukaan tempe. Jika kondisi lingkungan sesuai, spora akan berkecambah membentuk hifa. Hifa kemudian tumbuh bercabang dan membentuk miselium yang tampak seperti benang-benang putih.

Bagian kehitaman pada tempe yang terlalu lama disimpan dapat menunjukkan struktur reproduksi jamur yang menghasilkan spora. Spora berfungsi sebagai alat perkembangbiakan dan penyebaran. Karena ukurannya kecil dan ringan, spora mudah terbawa udara, menempel pada makanan, lalu tumbuh jika tersedia nutrisi dan kelembapan. Oleh karena itu, jamur dapat menyebar dengan cepat pada bahan makanan.

Pembahasan

Fungi bereproduksi dengan spora, baik secara seksual maupun aseksual tergantung jenis jamurnya. Pada kondisi yang mendukung, spora cepat tumbuh menjadi hifa. Hifa-hifa kemudian membentuk miselium. Kasus tempe menunjukkan bahwa jamur membutuhkan lingkungan lembap, suhu sesuai, dan substrat organik. Penyebaran spora yang mudah terbawa udara menyebabkan jamur cepat tumbuh pada makanan yang tidak disimpan dengan baik.


Soal 3 — Zygomycota dan Perannya pada Pembusukan Makanan

Stimulus Kasus

Dalam kegiatan praktikum, siswa mengamati roti yang telah dibiarkan selama lima hari dalam plastik tertutup. Roti tersebut ditumbuhi jamur berwarna putih seperti kapas, kemudian muncul bintik-bintik hitam di ujung benang-benang halusnya. Guru menjelaskan bahwa salah satu jamur yang sering tumbuh pada roti adalah Rhizopus. Jamur ini termasuk kelompok Zygomycota. Rhizopus memiliki hifa yang tumbuh menyebar pada permukaan roti dan menyerap nutrisi dari bahan organik. Pada kondisi tertentu, jamur ini membentuk sporangium yang menghasilkan spora untuk memperbanyak diri.

Pertanyaan

Berdasarkan kasus tersebut, analisislah ciri-ciri Zygomycota yang tampak pada pertumbuhan jamur roti. Jelaskan pula mengapa Rhizopus dapat berperan sebagai pengurai sekaligus merugikan manusia.

Kunci Jawaban

Ciri Zygomycota yang tampak pada kasus tersebut adalah memiliki hifa yang membentuk miselium seperti kapas, hidup pada bahan organik, dan menghasilkan spora dalam sporangium. Bintik-bintik hitam di ujung benang halus merupakan sporangium yang berisi spora. Rhizopus tumbuh pada roti karena roti mengandung bahan organik yang dapat diuraikan dan diserap sebagai nutrisi.

Rhizopus berperan sebagai pengurai karena mampu menguraikan bahan organik mati, seperti roti yang sudah lama disimpan. Dengan menguraikan bahan organik, jamur membantu daur materi di alam. Namun, Rhizopus juga dapat merugikan manusia jika tumbuh pada makanan karena menyebabkan makanan membusuk, berubah warna, berbau tidak sedap, dan tidak layak dikonsumsi. Jadi, peran Rhizopus bergantung pada tempat dan konteks pertumbuhannya.

Pembahasan

Zygomycota memiliki ciri khas antara lain hifa tidak bersekat, hidup sebagai saprofit, dan berkembang biak dengan spora. Pada Rhizopus, spora aseksual dibentuk di dalam sporangium. Dalam ekosistem, Rhizopus bermanfaat sebagai dekomposer. Namun, pada makanan, pertumbuhannya menyebabkan kerusakan bahan pangan. Inilah contoh bahwa satu organisme dapat memiliki peran menguntungkan dan merugikan tergantung situasinya.


Soal 4 — Ascomycota dan Pemanfaatannya dalam Fermentasi

Stimulus Kasus

Sebuah kelompok siswa membuat percobaan sederhana menggunakan larutan gula, air hangat, dan ragi. Setelah beberapa menit, muncul gelembung gas pada larutan tersebut. Mereka juga mencium aroma khas yang berbeda dari larutan awal. Guru menjelaskan bahwa ragi mengandung jamur Saccharomyces cerevisiae yang termasuk kelompok Ascomycota. Jamur ini dapat memanfaatkan gula sebagai sumber energi melalui proses fermentasi. Dalam kehidupan sehari-hari, ragi digunakan untuk membuat roti, tape, dan beberapa produk fermentasi lainnya. Namun, jika jumlah ragi, suhu, atau bahan tidak sesuai, hasil fermentasi dapat gagal.

Pertanyaan

Analisislah peran Saccharomyces cerevisiae dalam proses fermentasi. Mengapa suhu, gula, dan jumlah ragi dapat memengaruhi keberhasilan fermentasi?

Kunci Jawaban

Saccharomyces cerevisiae berperan dalam fermentasi dengan mengubah gula menjadi energi, gas karbon dioksida, dan alkohol dalam kondisi tertentu. Gelembung gas yang muncul pada larutan menunjukkan terbentuknya karbon dioksida. Pada pembuatan roti, karbon dioksida membuat adonan mengembang. Aroma khas menunjukkan adanya hasil metabolisme dari aktivitas ragi.

Suhu memengaruhi fermentasi karena enzim pada ragi bekerja optimal pada suhu tertentu. Jika suhu terlalu rendah, aktivitas ragi lambat. Jika terlalu panas, ragi dapat mati. Gula diperlukan sebagai sumber energi bagi ragi. Jika gula terlalu sedikit, fermentasi kurang optimal. Jumlah ragi juga penting karena terlalu sedikit membuat proses lambat, sedangkan terlalu banyak dapat memengaruhi rasa dan kualitas produk. Jadi, keberhasilan fermentasi bergantung pada keseimbangan kondisi lingkungan dan bahan.

Pembahasan

Ascomycota memiliki banyak anggota yang bermanfaat, salah satunya Saccharomyces cerevisiae. Jamur ini banyak digunakan dalam industri pangan karena mampu melakukan fermentasi. Dalam proses tersebut, gula diubah menjadi senyawa lain, termasuk gas karbon dioksida. Soal ini menguji kemampuan siswa menghubungkan aktivitas mikroorganisme dengan faktor lingkungan seperti suhu, substrat, dan jumlah organisme.


Soal 5 — Basidiomycota, Jamur Konsumsi, dan Risiko Jamur Beracun

Stimulus Kasus

Saat kegiatan observasi di lingkungan sekolah setelah hujan, siswa menemukan beberapa jamur tumbuh di dekat batang pohon lapuk. Ada jamur berbentuk payung berwarna cokelat, ada pula yang berwarna mencolok. Sebagian siswa ingin memetiknya karena bentuknya mirip jamur konsumsi yang dijual di pasar. Guru melarang siswa mencicipi jamur tersebut karena tidak semua jamur berbentuk payung aman dimakan. Beberapa jamur dari kelompok Basidiomycota memang bermanfaat sebagai bahan pangan, tetapi ada juga yang beracun. Jamur yang tumbuh pada kayu lapuk juga berperan dalam menguraikan sisa makhluk hidup.

Pertanyaan

Analisislah mengapa siswa tidak boleh langsung mengonsumsi jamur liar yang ditemukan di lingkungan sekolah. Jelaskan hubungan antara ciri Basidiomycota, perannya sebagai pengurai, dan potensi bahayanya bagi manusia.

Kunci Jawaban

Siswa tidak boleh langsung mengonsumsi jamur liar karena tidak semua jamur berbentuk payung aman dimakan. Beberapa jamur Basidiomycota dapat dikonsumsi, tetapi sebagian lainnya mengandung racun yang berbahaya bagi tubuh. Bentuk luar jamur sering kali mirip sehingga sulit dibedakan hanya berdasarkan pengamatan sederhana. Oleh karena itu, jamur liar harus diidentifikasi oleh orang yang ahli sebelum dinyatakan aman.

Basidiomycota umumnya memiliki tubuh buah yang tampak jelas, misalnya berbentuk payung. Jamur ini menghasilkan spora pada struktur basidium. Pada kasus tersebut, jamur tumbuh di dekat batang pohon lapuk karena berperan sebagai pengurai. Jamur membantu menguraikan kayu dan sisa makhluk hidup menjadi zat yang lebih sederhana. Namun, meskipun bermanfaat bagi ekosistem, beberapa jenisnya dapat beracun bagi manusia jika dikonsumsi sembarangan.

Pembahasan

Basidiomycota mencakup jamur payung, jamur kuping, jamur merang, dan berbagai jamur liar lainnya. Banyak yang bermanfaat sebagai pangan, tetapi ada juga yang beracun. Kasus ini menuntut siswa berpikir kritis bahwa kemiripan bentuk tidak cukup untuk menentukan keamanan konsumsi. Selain itu, siswa harus memahami peran ekologis jamur sebagai dekomposer yang menguraikan bahan organik seperti kayu lapuk.


Pedoman Penskoran Umum

Skor

Kriteria Jawaban

4

Jawaban sangat lengkap, analisis tepat, konsep fungi benar, dan dikaitkan jelas dengan kasus.

3

Jawaban cukup lengkap, konsep utama benar, tetapi analisis atau hubungan dengan kasus belum terlalu mendalam.

2

Jawaban sebagian benar, tetapi masih umum dan kurang menjelaskan hubungan sebab-akibat.

1

Jawaban kurang tepat, hanya menyebutkan sedikit konsep tanpa analisis.

0

Tidak menjawab atau jawaban tidak sesuai dengan pertanyaan.

Total skor maksimal: 20 poin.

 


Comments